Postingan

Mari bersua 03,

Sudahkah kita lulus dalam tahap penerimaan ?. Penerimaan atas diri sendiri, atas hal yang terjadi, atas segala sesuatu yang mewarnai cerita hidup. Sudahkah ?. Jika belum, tak apa.  Diluar sana, ada banyak sekali yang belum lulus tahap penerimaan.  Merutuk, sesal, melihat orang lain jauh lebih sukses dibanding kita, hati rasanya semakin menjerit tak karuan. Hai kamu, Apakah level sukses seseorang dapat disamaratakan ?. Apa itu seperti standar nilai disekolah ?. Mungkin bagi si Januari, sukses adalah ketika dia berhasil membuka usaha bubur ayam. Bagi si Maret, sukses adalah ketika ia berhasil kuliah sampai S2, dan bagi Agustus, sukses adalah ketika dia berhasil mengelola emosi.  Berbeda bukan ?. Maka, layakkah kita untuk menilai kesuksesan seseorang ?. Baik Maret, Januari, layakkah mereka menilai pencapaian Agustus sama sekali tidak berarti ?. Memalukan ?. Layakkah ?. Mari ubah persepsi kita perihal kesuksesan seseorang.  Jangan tergiur untuk menghakimi "Dia tidak suks...

Mari Bersua 02,

Pernahkah kamu merasa tidak dihargai ?. Pernahkah kamu merasa semua terasa memilukan ? Barang tersenyum rasanya teramat sulit, Menangis rasanya tak perlu, Tak terhitung, berapa kali diri ini menghela nafas. Mencoba untuk baik-baik saja, tetapi, rasanya mustahil. Apakah ini wajar ?. Wajar saja. Yang tidak wajar adalah kamu berpikir negatif. Seringkali, kita tergiur untuk berpikir negatif. Padahal, berpikir positif pun perlu dalam hidup ini. You're not alone. Diluar sana, ada hati yang merasa sama sepertimu. Menguatlah. Tegaklah. Kamu, hebat!

Mari Bersua 01,

''Penggemar''      Disadari atau tidak, masing-masing dari kita adalah seorang penggemar. Aku mungkin penggemarmu. Dan kamu mungkin penggemar orang lain. Orang lain itu mungkin juga penggemarmu. Menyisakan aku, sebagai penggemar penuh pilu dibalik pagar malu.  Perempuan dibalik pagar malu itu adalah aku. Yang merindukan senyummu. Pagar adalah pagar. Suatu batas yang menjadi batasan masing-masing.  Aku tau. Batasan itu . . . aku tau. Maka dari itu aku memilih menjadi penggemarmu dibalik pagar malu.  Duduklah ! Minum teh hangat bersamaku. Teh ini terlalu manis untuk dilewatkan. Ditambah hujan gerims. Kali ini aku tak ingin meringis atau menangis. Aku ingin melihat senyummu yang manis. Akan ku ceritakan sedikit tentang rasa seorang penggemar. Aku penggemarmu. Duduklah, dan dengarkan. Aku penggemarmu yang gila ! Siang tanpamu adalah hampa. Sore tanpamu adalah sendu. Malam tanpamu adalah pilu. Pagi tanpamu adalah risau. Berawal dari tatap, aku merasa mantap. Ya,...