Mari Bersua 01,
''Penggemar''
Disadari atau tidak, masing-masing dari kita adalah seorang penggemar. Aku mungkin penggemarmu. Dan kamu mungkin penggemar orang lain. Orang lain itu mungkin juga penggemarmu. Menyisakan aku, sebagai penggemar penuh pilu dibalik pagar malu.
Perempuan dibalik pagar malu itu adalah aku. Yang merindukan senyummu. Pagar adalah pagar. Suatu batas yang menjadi batasan masing-masing. Aku tau. Batasan itu . . . aku tau. Maka dari itu aku memilih menjadi penggemarmu dibalik pagar malu.
Duduklah !
Minum teh hangat bersamaku. Teh ini terlalu manis untuk dilewatkan. Ditambah hujan gerims. Kali ini aku tak ingin meringis atau menangis. Aku ingin melihat senyummu yang manis.
Akan ku ceritakan sedikit tentang rasa seorang penggemar.
Aku penggemarmu. Duduklah, dan dengarkan.
Aku penggemarmu yang gila !
Siang tanpamu adalah hampa.
Sore tanpamu adalah sendu.
Malam tanpamu adalah pilu.
Pagi tanpamu adalah risau.
Berawal dari tatap, aku merasa mantap. Ya, menjadi penggemarmu. Jika diingat kembali, mungkin itu fase paling memalukan dalam hidupku. Barangkali, itu fase yang penuh kebodohan.
Entah berapakali aku memikirkanmu. Sedang apa dirimu, makanan faforitmu, minuman kesukaanmu, alamatmu, saudaramu, temanmu, kerabatmu. Mungkin lancang, tapi aku juga memikirkan seperti apa perempuan yang kau gemari.
''Barangkali dia cantik, tinggi, langsing seperti model papan atas''
''Barangkali dia biasa saja, tetapi senyumannya sangat teramat manis''
''Barangkali dia sederhana, namun pandai membuatmu tersenyum''
''Katakan !, yang mana ?.'' dan ''aku ingin tau dan aku akan meniru !''
Berharap, suatu hari aku berharap kamu beralih profesi, menjadi seseorang yang menggemariku. Seseorang berkata ''Tidak ada yang tidak mungkin''. Bagiku, hal seperti itu mungkin memang terjadi, Tapi mustahil itu terjadi padamu. Bagiku, selalu sama, kamu adalah sebuah ketidakmungkinan.
Berjanjilah untuk tidak menjadi penggemarku. Sekarang, besok, atau lusa.
Maukah kau berjanji ?.
Aku harap kau mau.
Jika suatu saat kamu bertanya-tanya, pernahkah air mata ini menangisimu ?. Jawabannya adalah tidak. Tidak tau seberapa banyak air mataku menetes karenamu. Melihatmu membersamai perempuan yang kau gemari, hati mana yang tak perih ?.
Luka itu menganga lebar didalam hati kecilku.
Sementara aku menangis memeluk pedih.
Kamu haha hihi bersama perempuan itu.
Dia cantik. Pantas kamu sukai.
Belum lagi ketika kita saling tatap tanpa sengaja.
Aku melihat amarah, ketidaksukaan dan kebencian ?.
Haruskah tatapan seperti itu yang kau berikan dihadapan penggemarmu ?
Apa aku begitu buruk ?
Barangkali kamu kecewa memiliki penggemar seperti diriku. Diriku yang tak sebanding dengan perempuan itu.
Tapi . . .
Haruskah aku merendahkan diriku ?.
Sedang disana, beberapa penggemar dibalik pagar memperhatikanku. Bukankah aku terlalu sibuk menggemarimu ?. Sampai-sampai aku lupa. Aku tak menyadari, bahwa aku pun memiliki penggemar.
Sejak awal, aku memutuskan untuk menjadi penggemarmu, dan diakhir aku memutuskan untuk tetap menjadi penggemarmu. Apa kamu bangga ?, untuk apa bangga ?. Yang perlu kau lakukan adalah tidak perduli dan ingat akan pintaku.
Ketidakperdulianmu sudah cukup.
Gerimis sudah reda. Teh tandas habis tanpa sisa. Sebelum kamu beranjak, aku ingin membisikan sesuatu padamu.
''Kelak . . .
Jangan datang . . .
Suatu hari . . .
Jangan datang . . .
Karena . . .
meski kamu ingin,
aku,
tak lagi ingin''
Sekarang, besok dan semoga lusa. Aku memutuskan untuk membersamai penggemarku. Seseorang yang tulus menggemariku tanpa tapi, memperjuangkan tanpa kenal kata menyerah.
Aku harap, kamu selalu baik-baik saja, dan ingat akan ceritaku.
Komentar
Posting Komentar